Teman Kantor Bikin Bergairah

Teman kantor yang bernama Hesti dia mempunyai body yang montok dengan ukuran dada kira kira 34 B, saat aku berpaspasan dengan dia aku melihat pada bagian dadanya yang sangat aduhai sekali, dia memakai hijab sangat membuat aku bergairah, jujur saja aku sangat ingin menikmati tubuh dia yang pertama dia masih perawan belum punya suami dan kedua dia memakai hijab yang mempercantik dan membuat aku penasaran.

cerita sex terbaru hot, cerita mesum perawan, cerita hot teman kantor, cerita dewasa perawan jilbab, cerita ML dalam kantor, cerita kentu memek perawan, cerita hot terbaru, kentu perawan jilbab, perawan hot, ngesex perawan hijab

Sebenarnya tidak susah untuk wanita secantik dia mendapat suami. Tetapi hesti ini orangnya suka pilih-pilih. Oh ya, nama aku Sandi umur 35 tahun dan tergolong perjaka tua. aku pingin cepat-cepat punya istri, dan hesti adalah tipe wanita idaman aku.

Oleh sebab itu aku beberapa kali mengajak dan menawarkan dia untuk mau jadi istri aku. Namun wanita cantik berhijab yang alim ini menolak tawaran aku.

“Mas mau dengan aku? Nggak deh!” dia berkata dengan angkuh menolak aku.

“Yah, kita kan sama-sama sudah tua apa salahnya kita menikah?” kata aku dengan agak marah.

Aku jadi penasaran ingin ngentot dengan gadis berhijab yang alim ini. Maka pagi ini aku bertekat ingin mencicipi vagina hesti yang berbadan sintal ini. Ada nikmatnya menggagahi wanita baik-baik.

Hesti melirik aku dengan sudut matanya. Pagi itu gaun bawahnya berwarna merah tanah dengan belahan samping hampir selutut, penisku langsung kejang melihat betis putih kemerahan hesti yang tersingkap. hesti menatap aku dengan pandangan aneh.

Suasana kantor yang masih sepi pada 6.30 pagi membakar birahi aku. aku buntuti hesti yang menaiki tangga secara pelan. Pantatnya begitu montok, celana dalamnya membekas pada gaunnya, membentuk segi 3 yang amat ketat. Celana dalam yang dipakenya pasti mirip popok.

Hesti berhenti beberapa tangga di atas aku, hingga aku bisa mengintip bawah gaunnya. hesti seolah merangsang aku dengan melebarkan kaki hingga 2 batang paha super mulus teronggok menantang. hesti berhenti beberapa saat.

Penis aku mengeras. aku tarik risleting, lalu aku keluarkan penis aku, hampir mengintip dari celah celana aku. Ketika itulah hesti membalik ke arah aku. Melihat aku birahi, hesti memalingkan muka, bergegas menuju ruangnya.

Jalannya yang tergesa membikin kainnya terangkat, betisnya yang mulus tersingkap, hingga pahanya yang mulus tampak jelas bagi aku yang berada di bawahnya. aku memburunya ke ruangan atas tempat kerja.

Ketika aku masuk, aku mendapati hesti berdiri menatap aku dengan sorot mata seperti memendam birahi. dia berbalik memunggungiku, berjalan menuju jendela. aku pegang tangannya tetapi hesti menolak. Sekali sentidak seluruh tubuhnya jatuh dalam rengkuhan aku. hesti menggeliat.

Perempuan berhijab ini memang wangi tubuhnya. Dalam dekapan aku hesti meronta kuat hingga aku sudutkan hesti ke tembok. aku tekan penis aku tepat pada selangkangannya hingga membuatnya jengah.

Aku paksa hesti menatap aku tetapi dia memalingkan muka dengan mata terpejam & bibir terkatup. Tidak ada suara keluar dari mulut tipisnya. Hanya tarikan nafas tertahan menahan malu karena birahi dengan lelaki dia tolak.

Setiap aku tekan penis aku tepat pada selangkangannya, aku pastikan penis aku terasa olehnya. aku paksa hesti menatap aku agar tahu birahi aku padanya bukan hanya sex semata. hesti menunduk, tetapi selangkangannya makin melebar. dia membiarkan aku masuk.

Tubuhnya makin terangkat tinggi, kaki kirinya mengangkang hingga sepatu putihnya hampir lepas, menampakkan tumitnya yang montok dengan jari kaki bulat lentik dan kuku terawat. Membikin penis aku mengejan makin keras cepat pada selangkangnya. Seperti bersetubuh tetapi masih berbaju.

Ketika mata hesti mulai merem melek merasakan kekenyalan penis aku pada selangkangnya, mendadak aku tarik gaun bawahnya ke atas. Tubuhnya aku angkat agak tinggi, lalu aku turunkan celana aku hingga tampak penis aku. aku pelorotkan celana dalam hesti. Perempuan berhijab itu menampar aku ketika aku mencoba memasukkan penis aku pada kelamin hesti yang mulus dengan sedikit rambut.

“Jangan kurang ajar ya!” kata hesti dengan ketus.

“Terserah kamu, kamu harus mau melayaniku pagi ini akung!” kata aku seenaknya

tetapi penuh gairah terhadap wanita berhijab ini.

Hesti mengatupkan paha kuat-kuat. aku remasi belakang pantat montoknya, hingga merabai pahanya. hesti menarik nafas, selangkangnya terbuka, langsung aku hujamkan penis aku kedalam vaginanya.

Tidak berdaya mempertahankan kehormatannya sebagai gadis alim yang berjilbab, hesti pasrah. aku dorong penis aku ke vagina hesti, agak susah dan terasa sesak sebab vagina hesti masih rapat dan perawan. Selama ini hesti memang belum pernah melakukannya dengan siapa pun.

Kembali aku dorong penis ke vagina gadis berhijab ini. Batang pahanya yang putih mulus memacuku. Vaginanya berdenyut menampung batang penis aku. hesti menatap aku dengan takjub setiap kali aku menghentakkan dengan kuat penis aku dalam kelaminnya, meskipun dia juga merasa sakit karena baru pertama kali ngentot.

Makin lama entotan aku makin cepat, keras dan kuat. hesti masih menahan malu meluapkan birahinya. aku pegang kain jilbabnya, aku tarik kepalanya ke belakang. aku benamkan penis aku dalam-dalam di liang kemaluan hesti, lalu sperma aku muncrat deras.

Hesti merintih. aku semburkan sperma aku beberapa kali, lalu pelan-pelan aku cabut penis aku sambil menggerakkan penis aku keluar masuk dalam kemaluan perempuan berhijab ini, memberi hesti sensasi nikmat sexual.

Ketika aku tarik lepas penis aku, hesti jatuh terduduk lemas. Dia jongkok, berusaha mengeluarkan tumpahan sperma aku yang bercampur darah perawannya yang sisanya mengaliri vaginanya. hesti menatap aku tajam dengan pandangan marah tetapi suka dengan godaan birahi aku. Dilemparnya celana dalamnya yang aku robek. Kemudian hesti menangis, menyesali kejadian yang sudah berlalu. aku tersenyum penuh kemenangan.

“Gimana mau nikah sama aku kan akung” bujuk aku lagi.

Hesti tidak menjawab, peduli amat, yang penting aku sudah merasakan vagina gadis alim berhijab ini. aku bergesas ke tempat kerja aku sebab sudah ramai orang yang datang. Sebelum pergi kukecup bibir tipis wanita alim ini.

“Nanti Kita ulangi lagi ya akung” kata aku.

Hesti tidak menjawab, dia hanya tersenyum sebelum kutinggalkan