Menikmati Kegilaan Sex Sampai Pagi

Cerita Sex Terlengkap, Cerita Mesum Bergambar Hot – Setelah menurunkan penumpang terakhir diterminal, Herlambang mengarahkan bisnya ke pool. Sapak duduk dikursi disampingnya, tentu saja telah mengSapakgi no HP, telp rumah, alamat dan jadwal selama mudik Ibu Hindun.

`Ehh kamu, bagaimana caramu bisa nyuruh ibu itu mau begituan sama aku?

“Tenang saja bang, yang penting, inga-inga’

Cerita Dewasa Menikmati Kegilaan Sex Sampai Pagi

cerita mesum terbaru hot, mesum ngentot memek, cerita ngentot terpanas, cerita dewasa sekarang, cerita sex mantap, cerita seks terlengkap dan terhot, kisah dewasa panas
cerita mesum terbaru hot, mesum ngentot memek, cerita ngentot terpanas, cerita dewasa sekarang, cerita sex mantap, cerita seks terlengkap dan terhot, kisah dewasa panas

 

cerita mesum terbaru hot, mesum ngentot memek, cerita ngentot terpanas, cerita dewasa sekarang, cerita sex mantap, cerita seks terlengkap dan terhot, kisah dewasa panas

 

cerita mesum terbaru hot, mesum ngentot memek, cerita ngentot terpanas, cerita dewasa sekarang, cerita sex mantap, cerita seks terlengkap dan terhot, kisah dewasa panas

Wah sial, kadung janji ama nih monyet, nggak mungkin lah yauww, aku bagi si Wita ama dia, tetapi telah sumpah. Gimana nih?. Herlambang kebingunan dalam hati, karena ada niatnya menjadikan Wita  iimpanannya yang masih berusia 20 tahun sebagai istri mudanya. Telah lama ia kawin masih juga belum punya anak, ia berharap kalau si Wita bunting akan segera dikawini, kalau tak simpen ajah terus. Wita Herlambang yang perawanin, dengan janji gombal kerja diloket perusahaan, tampak sangat setia kepadanya, cocok jadi pendamping, masa aku bagi? Sebodo amat, lihat nanti, nggak bakalan aku kasih.

Hubungan, Herlambang dengan Wita anak penjaga warung disamping pool, telah jadi rahasia umum dikalangan supir, semua supir iri padanya, tetapi demi kode etik, mereka saling menjaga rahasia.
Wita yang bisa memperkirakan jadwal kedatangan Herlambang yang enam hari sekali, segera menyelinap ke kamar untuk para supir. Pool menyediakan lusinan kamar terutama untuk supir yang domisilinya bukan dari kota tersebut.

`Ehh Sapak, kamu beresi dulu semuanya aku mau setor’ Sapak paham maksud supir ini.

`Gimana janjinya bang?’

`Bereslah, tenang saja tetapi jangan sekarang, nantilah kuatur dulu,

OK? Eh jagain kakakmu yach, kalau datang cepat kasih kode’

`Ok bang, ingat janji lho’ Sapak sebenarnya kurang minat sama Wita yang menurutnya masih terlalu remaja, Sapak sangat suka sama ibu muda, mungkin ada masalah oedipus complex. Tetapi lumayanlah kalau nggak ada, memang kebetulan investasinya memungkinkan demikian, telah dapet Hindun, kemungkinan dapet Wita.

Sapak, yang sedang membereskan seluruh urusan, mulai dari cek barang ketinggalan, kerusakan, administrasi dll, melihat Kak Lia naik beca diujung jalan, menuju pool.

liamawati, atau yang dipanggilnya kak Lia adalah istri Bang Herlambang yang telah tujuh tahun kawin tetapi belum punya anak. Berusia 31 tahun, suku jawa kelahiran sumatera, kakeknya kuli kontrak jaman belanda.

Cantik keibuan, agak tinggi sekitar 168cm, dengan postur tubuh menawan, kalau dulu istilahnya Molegh. Dulu sih ramping tetapi setelah berumah tangga menjadi semakin berisi, menjadikan semakin montok dan
menawan. Memang kelebihan para supir adalah bisa memilih istri dari banyak cewe cantik disepanjang jalan.

Kak Lia cukup baik kepadanya terutama karena Sapak sangat rajin, tanpa disuruh menyelesaikan pekerjaan rumah yang seharusnya menjadi tugas Herlambang.

Sapak segera menghambur kekamar supir, meneriakkan kode `Bang Herlambang ada polisi minta setoran’ Buru-buru Herlambang berbenah, baru saja ia bertempur menggeleparkan Wita satu Ronde. Segera mengenakan baju, dan lari kedalam bis.

Sapak melenggang kedepan menjumpai Lia `Sapak, aman dijalan, mana abangmu? Lia telah mendengar isu santer ulah suaminya, buru-buru ke pool setelah diinformasikan suaminya
telah kembali. Hatinya panas, digosok cemburu tetapi tak mampu membuktikan karena hebatnya kamum supir dan kenek menjaga kode etik. `Sukurlah kak, aman, abang tadi ada dibis sedang ngecek lampu’

Singkat cerita, Lia dan Herlambang kembali bertengkar setibanya dirumah, kali ini lebih keras, karena Lia menjumpai bekas-bekas pertempuran di beberapa bagian tubuh suaminya. Seperti biasa, ancaman Lia minta cerai.

Kali ini Herlambang agak terpojok akhirnya mengemukakan alasan, kerinduannya akan anak. Lia mengancam ia bisa juga nyeleweng, yang balas diancam akan lelaki itu dibunuh. Setelah mengeluarkan senjata pamungkas kamum wanita sesegukan mengancam bunuh diri. Herlambang menawarkan solusi:

`Dik, kita butuh keturunan, ada kemungkinan bibit abang nggak bagus, demikian juga sebaliknya. Mangkanya abang nyoba kelain wanita, hati abang tetap sama adik’ Lia semakin meledak,

`Enak aja, kalau nanti wanita itu hamil, aku dibuang?

`Bukan, gimana kalau abang carikan bibit buat adik, kalau jadi, abang janji tak akan nyari wanita lain’ Terdesak karena ketahuan terpaksa Herlambang mengalah, menurunkan harga dirinya.

“Nggak perlu abang yang nyari, aku bisa sendiri’ Lia menyatakan dendamnya.

“Nggak boleh gitu dik, ini masalah kehormatan, lelaki itu umumnya anggar jago (penulis: suka pamer), kalau ia bicara meniduri kamu, dimana kuletakkan mukaku, pasti kuhabisi dia’ Pertengkaran reses, seperti rapat DPR

Lama, Herlambang merenung panjang memikirkan pertengkaran dengan istrinya. Mendadak dilihatnya Sapak masuk, mungkin ada keperluan dari kantor ‘Kenapa Sapak’ mengedipkan mata, karena Lia mungkin menguping, maklum rumahnya tak besar.

‘LLAJR minta setoran bang, ia marah-marah, barangkali setoran tadi nggak beres’ kode rahasia mereka, yang artinya dicari cewe, dalam halini Wita.

‘Bilang aja besok, kas telah tutup’

“Yaa sudah, aku juga bisa ngurus bang, aku talangin duluan,inga..inga’ Sesuai janji, si Wita akan di ‘urus’ Sapak ‘Aku kembali ke pool ya bang’

“Sompret monyet ini’, Dalam benaknya nggak rela calon istrinya diembat orang ‘Wah tetapi telah sumpah’. lagipula sebenarnya besok telah ada rencana kekampungnya Wita untuk berkenalan dengan keluarga Wita’.

‘Tunggu sebentar’ Dirinya menghendaki kembali kepool untukmenyelesaikan unfinished bussines dengna Wita, tetapi pertengkaran tadi lumayan hebat. Herlambang mendadak menemukan solusi’ Bagaimana kalaumonyet ini yang jadi pejantan? Toh anaknya baik, rajin, dikenalnya baik, pandai menyimpan rahasia, dll’ Herlambang ragu-ragu “Bang, tunggu apa lagi?’ Sapak berniat bali ke pool. “Sapak tunggu sebentar, ada yang penting, aku bicara dulu dengan kakakmu’

Herlambang masuk kamar, mendapati istrinya sedang berbaring menangis sesegukan. Lia… sebenarnya abang telah lama berpikir, barangkali memang abang yang kurang sehat sehingga kita tak punya keturunan.

Abang sungguh-sungguh dengan usul tadi, bahkan sebenarnya telah punya lama punya calon, tetapi takut adik tersinggung, abang malu sekali dik, bahkan telah lama abang menjajagi orang ini, kayaknya ia bersedia’ Lia sebagai istri yang baik, memahami derita batin suaminya, hatinya tergerak ‘Lia nurut sama abang, yang penting, Lia jangan disia-siakan’

“Bagaimana kalau…Sapak’

Lia kaget setengah mati ‘Tetapi bang ia kan masih kecil’, bagi Lia, Sapak bagai adik kandung suaminya sendiri.

‘Huss, ia telah gede, tetapi terserah adik, pikirkan matang-matang. Kebetulan ia ada disini, abang tinggal dulu, biar adik bisa menilaidan menjajagi’ Herlambang mengarang sekenanya ingin buru-buru kecewe
simpenannya, apalagi besok ada rencana kekampungnya ngelamar, sekaligus nebus hutang sumpahnya dibis, sukur-sukur Lia bisa bunting ‘sekali kayuh empat pulau terlampaui’.Herlambang beranjak pergi meninggalkan Lia yang masih bengong.’Kutunggu perkembangannya dari Sapak, suruh ia nyari aku nanti’

‘Eh kamu, dengan kakakmu saja yachh, jangan macam-macam kamu, ia telah kubilangi, aku balik ke pool’

Sapak ternganga dibuatnya ‘Bang Herlambang gila ya?’ ‘Telah diam, yang penting janji ditepati, kita kan cs, aku akankekampung Wita, ngelamar, kamu atur saja disini, paling cepat 2 hari lagi cari aku dipool. Oh iya -kamu ini telah lama kumohon bahkan  kupaksa bantu kami punya anak, mulanya kamu nggak mau, setelah kuancam pecat karena ngerusakin bis, baru sekarang kamu mau, ngerti? Giliran Sapak Bengong, shock

Tahu suaminya pergi dan ada masih Sapak, Lia keluar kamar menyembunyikan bekas tangisannya. ‘Sapak mandi dulu, sebentar kupanaskan masakan’

Menemani Sapak makan, seusai mandi, Lia memandangi Sapak yang sedang makan tetapi salah tingkah, menunduk terus, Lia memikirkan proposal suaminya, yah apa boleh buat, yang penting dirinya tak disia- siakan, sukur-sukur bisa dapat anak, bahkan ia bertekat, mempelajari rahasia kesukaan lelaki untuk merebut kembali suaminya dari wanita lain.

“Sapak kamu telah diberitahu abangmu”Telah lama kak tetapi Aku menolak, tetapi kemarin gara-gara bikin rusak bis, aku dipaksa abang untuk mau, kalau tak ia nyari kenek lain’Sapak mengarang cerita sesuai petunjuk’ ‘Jahat sekali abangmu itu’ Sahut Lia dengan gemas, tetetapi mulai menyukai proposal ini, karena tahu Sapak sebenarnya tak mau, bahkan sampai mau dipecat, merasa sependeritaan.

Memandang wajah kekanak-kanakan yang tertunduk malu’ batin Lia berkata ‘Mudah-mudahan ia agak dewasa sehingga bisa mengerti urusan orang dewasa’

Usai makan, ‘Sapak, siabang suka maen cewe ya?, telah nggak usah pura-pura, kakak cuma mau tahu, siabang kesukaannya gimana, barangkali kakak bisa belajar, sehingga ia bisa betah dirumah’ ‘Mana aku ngerti kak, kerja aku kan jagain bis, sedetik pun nggak boleh ninggalin’

“Ayolah Sapak, pasti antar supir sering cerita, gimana main wanita.

Atau gini aja deh apa yang Sapak tahu tentang hobi supir itu’

‘Iya sih aku sering denger mereka cerita aneh-aneh, yang istilahnya pun aneh!

“Apa Sapak,’

“Banyak, misalnya Mandi kucing, belah bambu, enamsembilan, blowjob, teratai, duduk amazon, cunning, felatio, doggy, snake, kelinci’

‘Wah apaaan tuh’ Lia hanya tahu bersetubuh dengan cara biasa (Penulis: misssionaris) , Herlambang nggak pernah macam-macam pada dirinya.

“Mana aku tau kak, dijelasin berkali-kali juga nggak ngerti’

“Coba yang kamu inget apa’

‘Teratai, karena pernah aku lihat dipraktekkan, Cunning nyiumin anu cewe’

‘Sapak coba praktekkan yang kamu tahu’

‘Wah..nggak ngerti kak,’ Sapak kembali mengeluarkan keahlian aktingnya

‘Alaa, kakak mungkin tahu tetapi istilahnya yang asing’ Lia mengambil inisiatif, merasa orang dewasa. Anak ini mungkin bisa membantu mempelajari rahasia lelaki, ya paling tak jadi boneka sungguhan.
Lia beranjak ke sofa “Ayo Sapak, mari sini’ Lia mendesak melihat Sapak tak juga bergerak,

‘Err…gimana yaa’ Sapak beranjak menghampiri ‘Kakak yang ngatur yaa? Sapak bersimpuh serong dihadapan Lia, yang duduk disofa.

Sapak pura-pura malu membelai betis, dirasakannya kulit halus dan lembut. Belaiannya naik keatas, menyentuh lutut, dirasakannya bulu-bulu merinding. Lia menarik dasternya sedikit keatas, menampakkan sebagian pahanya, mengundang Sapak membelai lebih jauh.

Belaiannya naik sedikit keatas, berputar-putar, kadang sedikit memijit.Kemana tangan Sapak meraba dirasakan bulu-bulu halus tegak merinding. Sapak yang pura-pura menunduk mencoba melirik keatas,
dilihatnya wajah ayu yang tegang, sambil sedikit menggigit bibirnya. Sapak bertahan meraba di wilayah paha yang terbuka, sedangkan yang masih tertutup daster tak disentuhnya.

Lia yang kini disentuh bukan suaminya telah berdebar-debar, walaupunotaknya menyatakan ah anak kecil ini, tetetapi sensasi yang ditimbulkan lebih dahsyat daripada dibelai suaminya sendiri. Lia menahan diri untuk tak bergerak. Agak lama dirasakanya tangan itu hanya berkutat di paha sedikit diatas lututnya, tampaknya anak kecil ini benar-benar takut pada dirinya. Untuk mendorong semangatnya Lia
kembali menarik kembali keatas dasternya, menampakkan sedikit celana dalamnya, mengundang tangan itu maju lebih berani.

Sapak mematuhi instruksi tak langsung itu, dengan berdisiplin tangannya hanya membelai sebatas yang diijinkan.  Walaupun dibatasi, belaian dipangkal pahanya telah menimbulkan rangsangan dahsyat, yang ditahannya setengah mati. Apalagi saat tangan itu menyentuh sangat dekat kepangkal pahanya, memaksa Lia menahan nafasnya.

‘Aduh anak ini benar-benar penakut’ kok setiap kali harus didorong.

Dibelainya rambut Sapak, seolah ibu mencurahkan kasihsayang kepada anaknya,dikecupnya ubun-ubun anak kecil itu, didekapnya dipipinya, membuat sedikit menarik kepala Sapak semakin mendekat. Membawa bibir Sapak menyentuh paha telanjang.

Sapak tak menyia-nyiakan kondisi itu, dikecupnya paha telanjang itu, dikecupnya disepanjang daerah yang diijinkan, sesekali dijilat, sesekali digigit lembut. Tangannya tak alpa melaksanakan tugasnya
melakukan survei diseluruh kulit mulus yang terpampang. Lia menahan diri sekuat tenaga atas rangsangan yang muncul,didekapnya kepala Sapak kuat-kuat sebagai pelampiasan nikmat yang
timbul.

Telah menjadi tabiat Lia, keyakinannya sebagai wanita baik-baik menyatakan amat tak pantas istri berlaku seperti wanita jalang yang binal. Bagi Lia, istri yang baik adalah patuh pada suami dan
sopan dalam seluruh hal, termasuk dalam urusan ranjang. Setiap disetubuhi Herlambang Lia selalu mempertahankan sikap wanita alim, menahan diri tak terlalu menunjukkan gairahnya.

Demikian juga kali ini, menerima rangsangan hebat dari Sapak, sekuat tenaga tak menunjukkan gejolak birahinya, terlatih sekian lama, dirangsang belaian dan kecupan, Lia masih mampu menahan diri untuk tak menggelinjang. Tetetapi bulu-bulu yang merinding, nafas yang tertahan-tahan, pejaman matanya, menunjukkan kondisi sebenarnya.

Sapak berpikir dalam hati ‘Wah kak Lia ini kelakuannya kaya frigid, tetapi sebenarnya nggak tuh buktinya merinding dan nafasnya terganggu, perlu diberi pencerahan nih’

‘Kak Lia nggak enak diraba-raba yah?’

“Tak Sapak, enak, kenapa?

‘Oooo…, kalau dengar supir-supir ngomong, termasuk juga abang,

mereka sangat menyukai wanita yang bergairah, tetapi nggak pura- pura. Idola mereka adalah wanita yang sangat bergairah kalau dirangsang, julukan bagi wanita yang susah bergairah adalah ‘gedebong pisang’ kalau yang disukai ‘kuda binal’ disenggol dikit ngelonjak kaya kuda’

‘Jadi Bang Herlambang suka yang bergairah?’ tersadar Lia atas gayanya selama ini yang makah sekuat tenaga tak menunjukkan gairah’.

‘Iya kak, kalau mau disenengin bang Herlambang, kakak jangan menahan diri, natural aja’ Sapak pura-pura sok tahu.

‘Masa sih?’

“Iya, mereka sangat bangga bisa menaklukan wanita, istilahnya dua- satu, tiga-satu, kalau seri sih nggak seru. Semakin sering cewe takluk mereka semakin senang’

‘Ooo, jadi cewe yang disukai abangmu yang sangat bergiarah’

‘Iya, semakin cewe puas, puas berkali-kali semakin abang suka, tetapi apa itu puas aku nggak ngerti’ Sapak mempertahankan kebegoannya.

‘Sapak, kakak rupanya salah selama ini, apa itu yangg…, ah yang penting sekarang kakak ngerti, kamu bantuin kakak belajar ya?,

apalagi Sapak’

‘Apa lagi yah..eee… ya..itu, pokoknya kakak harus berusaha puas terus-terusan’

‘Iya Sapak’ Diraihnya tangan siremaja, dibimbingnya membelai pahanya ‘Mmmmm…’ Lia berusaha lepas.
Bila sedari tadi, Lia duduk diujung sofa, karena tegang, sekarang mulai rileks, agak bersandar disofa, tangannya membelai rambut.

Sapak menyadari kuliah malamnya berhasil, kembali meraba dan mengecup. Tetapi sekarang agak beda hasilnya, setiap kecupan atau jilatan mulai membuahkan desahan atau gerakan kaki. Desahan atau
gerakan yang menghimbau dirinya bergerak lebih berani.

Lia telah menarik dasternya jauh keatas, memampangkan wilayah segitiga pangkal pahanya yang sangat menggairahkan mata Sapak.

Sapak semakin maju, terkadang jemarinya menekan pangkal paha Lia, menggosok disepanjang garis celana dalam, sesekali mencubitnya, yang membuat wanita itu menggelinjang. Berkali-kali dibusapnya rambut- rambut yang mencuat halus dari balik CD.

Kenikmatan mulai tiba menghampiri. ‘Hhh…Sapak coba dong yang tadi kamu sebutkan tadi’ Lia memerintahkan siremaja menghapus rasa takutnya, tak sabar menanti siremaja bergerak agresif.
‘Aku nggak yakin kak, dan eee…eee….bajunya…’Tetap mempertahankan bego, Sapak sedikit mengingatkan.

Lia telah membulatkan tekad melaksanakan proposal suaminya sekaligus belajar untuk lebih disukai suaminya, berdiri mengunci pintu, mematikan lampu. Berdiri disisi Sapak, Lia menanggalkan dasternya,
sedikit ragu ditanggalkannya bra dan cdnya. Mengurangi malu Lia mendekap tubuh siremaja yang masih bersimpuh menatap setiap gerakandirinya, dibenamkan wajah Sapak keperutnya.
Sianak membalas dekapan dengan sama hangatnya, bahkan tangannya seolah tak sengaja mencengkeram bokong, belahan pantat.

Sapak telah bertekad dari tadi untuk mempertahankan persepsi Lia akan keluguan dirinya.

Dikecupnya perut telanjang sang kakak, dibelainya pangkal paha bagian belakang, dan menyentuh menikmati hangatnya daging montok disana.Dengan sabar kedua tangannya membelai sekujur paha telanjang sang kakak, memaksanya mendesah, dan mendekap semakin erat.Lia ingat pelajaran tadi,dia tak menahan diri, ‘Sapak…enak Sapak…mmm…’ Agak lega dirinya mengakui rasa nikmat, dirinya semakin
rileks.

Dijatuhkan dirinya kesofa, setengah bersandar, menyeret wajah Sapak terbenam di gundukan bukit yang dihiasi lebatnya bulu pepohonan,mengharapkan daerah pangkal pahanya untuk kembali dikecup. Sapak
tak menyia-nyiakan undangan ini. ia mulai sedikit-sedkit mengeluarkan keahliannya, sambil tetap bersimpuh, direnggangkannya kedua paha, mengangkang.

Tubuhnya masuk kedalam kangkangan paha si kakak, memudahkan dirinya untuk mulai melakukan pembantaian.  Lidahnya mulai menjelajahi sekujur paha kiri bagian dalam, mulai dari lutut naik keatas, menyentuh pangkal ppaha berbalik turun, berulang- ulang. Tangan kanannya memegang lutut agar tetap mengangkang lebar. Tangan kirinya mulai buas, meremas paha kanan, sesekali menggaruknya.

‘Ohhh…’ Lia tersentak setiap lidah itu menghampiri pangkal pahanya.

Berkali-kali tersentak dan melenguh. Sapak berdisiplin hanya menjarah area diluar liang kewanitaan.

Deraan nikmat semakin membakar dirinya, dengan menguatkan diri, Lia mencengkeram rambut Sapak dengan kedua tangannya, dan membenamkan wajah itu agar menyentuh daerah kewanitaannya. Kepala itu ditahannya untuk tak lagi pergi kemana-mana, seolah berkata, cukup telah kamu merantau.

Sapak menyambutnya dengan serangan berat, lidahnya mulai membajak bibir kemaluan sang kakak, menjilat dan menghisap’

‘Ahhhh….Sapak….’

Ingat harus tetap bego ‘Kak kenapa sakit?’ Sapak mendadak menghentikan serangannya’

‘Ohhh…tak Sapak… enak… terus Sapak..’

Sapak kembali menyerang dengan lidah kasarnya membajak sisi dalam bibir kewanitaan, membuat pinggul itu meronta menerima nikmat.

Lia mulai membiarkan tubuhnya menggelinjang setiap didera kenikmatan.’Ohhh,,,sayang…ohhh…’Sedikit-demi sedikit Lia menyadari semakin ia merespon, reaksi deraan nikmatnya semakin berlipat.

Nafas Lia telah terengah-engah tak keruan, pinggulnya telah bergejolak tak terkendali, dengan cepat birahinya menjelang puncak pendakian.

Sapak dengan sigap mengimbanginya dengan mulai menjulurkan lidahnya dalam-dalam ke liang kewanitaan.
‘Shhh…shhh…shhh…’Lia mengeluh tak kuat menahan, siksa birahi, setiap lidah kasar itu menyeruak rongga kewanitaannya, kekasaran lidah menimbulkan efek ganda tak terhanankan. Sapak terpaksa mulai menahan kelojotan pinggul Lia yang semakin kuat tak terkendali.

Sapak hapal tanda ini, sang kakak menjelang tiba di puncak. Segera diangkatnya kedua paha sang kakak, ke atas bahunya, membuat pinggul itu terangkat keatas dengan tubuh selonjor di sofa. Punggungnya
tertekuk disandaran sofa, hanya atas pinggulnya yang masih menumpu di dudukan sofa. Berat badannya menumpang di bahu siremajai. Lia mencari- cari pegangan diatas sandanra sofa.

Sapak menarik nafas dalam-dalam menyiapkan diri untuk melakukan pembantaian.
Lidahnya mencari klit, dihajarnya seperti orang menjilat es krim, dengan jilatan panjang dan bertenaga, berulang-ulang ‘Aghhh….’ Lia menggelepar. Pinggulnya sulit menggelepar, ia hanya mampu mengejang kuat, pahanya hanya mampu dijepitkan kuat kuat dileher siremaja.

‘Nggggggg…..hhhhh’ Lia meledak, saat Sapak semakin cepat menjilati klitnya. Seluruh tubuhnya mengejang keras, dihajar puncak kenikmatan. Tangannya mencengkeram keras ujung sofa menahan ledakan yang merasuki seluruh tubuh, pahanya menjepit dahsyat leher siremaja.

Dengan lihai, Sapak semakin buas melakukan pembantaian, lidahnya dcucukan sedalam- dalamnya keliang kewanitaan, perlahan tetetapi kuat menekan dinding- dinding kewanitaan. Lidahnya merasakan betapa panasnya liang itu, walaupun dibanjiri cairan kewanitaan yang sedari tadi telah luber kemana-mana.

Lia telah diawang-awang, tak disadarinya tubuhnya kelojotan kesisi kiri, bak penggulat yang hendak membanting musuhnya dengan jepitan dileher, mengejang kuat.

Sapak kembali merasakan puas menyaksikan seorang wanita takluk diujung lidahnya.

Dengan perlahan namun penuh tenaga lidah itu terus mengayuhkan birahi si wanita agar tetap dipuncak nikmat.

Entah berapa lama berselang, tubuh Lia melemas dan lunglai tak berdaya, tersengal-sengal.

‘Ohhh Sapak, enak sekali sayang..hhh sudah…sudah…’ Lia ingat untuk tak menahan diri, dinyatakan kepuasannya secara terbuka.

‘Iya kak…’ Sapak beringsut menurunkan kedua paha telanjang itu dari bahunya, membuat siwanita terlonjor lemas dilantai, bersandar di kaki sofa. Sapak duduk disisinya.

‘Sapak…mmmphhhhh’ Lia mengecup bibir sianak dengan penuh kasih- sayang, berterima kasih dituntun sekian lama merasakan deraan nikmat sekaligus mengajarinya menjadi istri yang disukai suami.

Setelah sekian lama dalam keheningan’ Lia berhasil meredakan nafasnya ‘Sapak, tadi kakak telah puas sekali, terus apalagi yaa yang disukai kamum lelaki?

‘Ooooo tadi itu kakak puas, aku kira kesakitan, telah ketakutan dari tadi’ Konsisten bego.

‘Tak Sapak, tadi enak…sekali tak nyangka kamu bisa begitu’

‘Itu yang salah satu aku tahu cunning, nyiumin anu cewe, habis kalau dengerin ceritanya paling gampang, cuma cium dan jilat’

‘Wah berarti kamu hebat dong, hanya dengar teori langsung bisa praktek, terus gimana lagi?’

‘Ngg kayaknya sih, kakak nggak boleh berhenti puasnya, harus berusaha mencapai puas lagi, gituh’

‘Gimana?’

‘Kakak meraba-raba dengan hot, tetetapi dengan niat supaya silelaki kembali galak’

Bingung Lia mendengarnya ‘Maksudnya gimana?’

‘Yaa begitu…mana aku ngerti!’

‘Tadi satu lagi apa, teratai? coba lagi, pasti kamu bisa, tadi saja bisa, ayo kita sama belajar, ayo Sapak, terus gimana’

“oh iya…lupa, kakak harus agresip, jangan pasip’

‘Maksudnya?’

‘Nggak tau..’

‘Ooo mungkin…’ Lia menyadari Sapak masih mengenakan bajunya.

Jemarinya mulai meraba dan melepaskan satu persatu kancin baju ‘Sapak lepas Sapak’
Lia naik, duduk disofa, jarinya mengarah resleting celana, dibukanya ditariknya remaja itu agar berdiri, dipelorotinnya celana, dengan cepat jemarinya menurunkan cd Sapak. Mendadak Lia merasa lega sudah
sama-sama telanjang.

Segera tampak dalam keremanangan alat vital siremaja yang masih layu.

‘Kalau teratai, yang aku lihat, ngggg, sini kakak duduk aku pangku’.

Sapak duduk menyandarkan diri disandaran sofa, dituntun kakaknya duduk menyamping dipangkuannya. Segera dirasakannya Kehangatan pantat Lia menekan pangkal kemaluannya. Pundak kanan Lia menempel di dada siremaja, kedua tangannya merangkul dibelakang kepala. Kaki Lia rapat
selonjor sejajar sofa.

Tampaklah seorang Ibu muda yang ayu dan seksi duduk menyamping dipangkuan remaja, keremangan malam dengan sinar seadanya membuat kulit ibu yang putih lembut bak berpendar lembut, indah menawan.

Posisi ini, membawa tangan kiri Sapak bebas membelai sekujur punggung, tangan kanannya bebas menjamah bagian depan tubuh Lia.

Didekapnya tubuh telanjang itu dengan mesra.

Dikecupnya pipi halus wajah yang cantik, dihembuskan nafasnya di

teliga, diciuminya wilayah itu, membawa Lia menggeliat geli ‘Mmmm…’ Lia mempraktekkan kata agresif, dicarinya bibir Sapak, dilumatnya, dihisapnya dalam-dalam. ‘Kalau ini sih Lia telah lebih dari lulus’ ‘Eee kak, aku pegang ya! Sapak mempertontonkan kedunguannya.

‘Iya sayang, ayo jangan-ragu-ragu’

Yakin bahwa sang kakak telah ‘pengungkapan penuh’ Sapak melepaskan kebuasannya.

Membiarkan bibirnya dilumat, tangan Sapak, memulai perang gerilya.

Tangan kirinya membelai ketelanjangan punggung, menjalar mulai dari leher menjelajah sampai ke belahan pantat. Tangan kanan mulai membantai payudara montok. Payudara ini sedari tadi sangat
mengganggunya, menantang untuk minta dijamah, tetetapi demimempertahankan keluguan Sapak mendisiplinkan diri menahan menyentuh sepasang bukit kenyal yang sangat menggairahkan.

Dilepaskan kegemasannya dengan lembut dan bertenaga diremasnya sebelah susu itu, yang langsung membuat Lia disentak kembali rasa . Posisi teratai dimana Lia yang duduk dipangku dengan sebelah sisi tubuhnya rapat didada Sapak, membuat seluruh kemolegan tubuh depannya terbuka bebas terhadap ancaman tangan kanan Sapak. Tanpa tadeng aling- aling lagi tangan Sapak menjarah semua daerah suci wanita ini.

Tangan kasarnya dengan buas mempermainkan kedua bukit montok seenaknya.

Memeras, mencakar, memelintir pentil.

Lia tak sadar memejamkan matanya kuat-kuat menahan rasa nikmat yang kembali mendera dilampiaskannya dengan mendekap kepala Anak ini dengan erat. Kembali Lia sekuat tenaga menahan desahannya, walaupun tubuhnya telah kembali menggelinjang.

‘Kak sakit?’ Sapak masih pura-pura bego, kembali mengingatkan materi kuliah

‘Ohhh…nggak Sapak…ohh ….enak…enak…’

‘Kalau enak, kakak kasih tahu biar aku nggak khawatir, kan aku nggak ngerti kak? Kalau gini sakit nggak…’Kembali Sapak memeras payudara itu’

‘Hhhhh enak Sapak…terus Sapak…terus…ahh’ Lia melepaskan desah nikmatnya ‘Yang keras…ahhh…yaaa’ Sesekali memberi komando. Lia kembali menyadari dengan melepas reaksi tubuhnya atas kenikmatan yang mendera, baik itu dengan mengerang maupun kata-kata, terasa sangat ..gimana yahh… sangat seksi, serasa mengharubiru sanubari kewanitaannya yang terdalam.

Urutan, cakaran dipunggung, dan remasan, belaian dipayudara kembali membakar api birahi. Nafas Lia mulai tersengal-sengal, tubuhnya menggelinjang semakin sering.

Sapak meningkatkan intensitas aktivitasnya, dengan sedikitmenundukkan kepala, mulutnya menyergap pentil yang tegak menantang dengan indah, sembari tangan kanannya menyiksa payudara kiri.

‘Shh….’ Lia melenguh disergap deraan nikmat yang makin tinggi. “Sayang…ohh…’ Sapak telah menginginkan tindakan lebih jauh, tetetapi tetap menahan diri, menunggu komando. ‘Gimana yah caranya supaya seolah-olah disuruh’ Tangan kanannya turun kebawah, diselipkannya sela pangkal paha yang terkatup rapat. Ujung jarinya meraba bukit kecil yang dihiasi bulu- bulu halus yang terasa lembab ditangannya.

Sapak membagi wilayah serangnya, bibirnya berkonsentrasi menghajar seputar payudara yang indah menantang, tangan kanannya beralih pada pangkal kemaluan.

Didera nikmat, sekujur tubuhnya merindukan penuntasan lebih dalam.

Lia mulai tak sabar menunggu, tetapi ia tak tahu harus bilang apa. Sapak pun demikian menahan diri.

‘uhh…’ Lia terjengkit saat dirasakannya sebagian jemari menelusup liang pertahannya, ‘Sapak…ya..gitu Sapak…ohh’ Desahannya menyemangati anak ini supaya tak ragu-ragu menyeruak kedalam dirinya.

Sekian lama menerima hajaran nikmat, Lia tak tahan lagi ‘Sayang…ayo..sayang…ohhh…’

Sapak bersorak dalam hati mendengar perintah ini ‘OK baby..’

Sedari tadi dirasakannya kejantannya telah tegang menuntut penugasan,

tetapi ditindas hingga tertekuk, akibat pantat Lia yang duduk dipangkuan.

‘Iya kak…gimana yaa?, ee..coba kakak naik sedikit’ Sapak mengangkat sedikit bokong yang indah itu,

Tuinggg.. membebaskan tongkanya mengacung tegak menantang pantat yang sedari tadi mendindasnya.

Lia mengangkat tubuhnya merespon, menurut menggeser pantatnya kesatu arah, sampai dirasakannya segumpal daging keras menenmpel dimulut liang kewanitaanya.

‘Ohhh ini dia…’ dirinya menyadari akan dimasuki benda asing selain milik suaminya sendiri, tak terasa dadanya berdebar sangat keras,

menanti apa yang akan terjadi, gerakannya berhenti, Tangan Sapak yang tadi mengangkat bokongnya, sekarang mencengekram, menuntun Lia menurunkan badannya.

Lia tersadar, ‘oh iya betul…begitu seharusnya’ bergumam dalam hati, dengan birahi yang membara diturunkan tubuhnya menekan daging keras yang mengganjal dimulut kemaluannya. Sepp, masuk sedikit.

Nyangkut, terganjal, ohh hangat sekali anu si Sapak. Yess.. Sapak bersorak dalam hati, ‘Kak…’ Anak itu mendesiskan kegundahannya.

‘Uhhh Sapak…tahan yaaa” Sapak geli mendengar sikakak mengkhawatirkan dirinya.

Lia menarik nafas, Ditekannya kembali bagian bawah tubuhnya dengan kuat, slepp, berhasil memaksa daging itu memasuki kedalaman tubuhnya. ‘Ohh terasa menyesakan, daging itu kenyal menyumpat liang
keanitaannya membuatnya sesak susah bernafas.

Walaupun sesak, Lia merasakan lega kerinduannya terobati.

‘Kakak…aaaa…’ pura-pura Sapak menyuarakan penderitaannya.

‘Hhhhh…sabar sayang…hhh’ ditengah kesesakannya didera ganjalan keras, Lia memohon anak itu menahan kesakitannya.

Tubuhnya bergetar berusaha menekan lebih keras dengan mengedan panjang. Berhasil amblas sebagian besar.

Lia terengah-engah kehabisan nafas, tak kuat lagi untuk menekan lebih lanjut, seolah-olah Tongkat keras itu mati-matian menolak,dibenamkan lebih lanjut. Tetapi sebenarnya kewanitaannya belum sepenuhnya menyesuaikan diri, terasa penuh menyumpal. Ditambah lagi posisi pahanya yang rapat membuat hambatan semakin kuat.

Mencari pegangan dileher Sapak, Lia mulai memacu diri, seolah menunggang kuda ala wanita bangsawan dengan kedua kaki terjuntai disisi kiri. Sedikit saja pinggulnya bergerak menghasilkan ledakan birahi yang hebat. Memaksanya merintih.

Tertatih-tatih Lia memacu diri menunggangi kejantanan Sapak, terangah- engah nafasnya, saat kewanitaannya dalam kesesakan berupaya merejam Tongkat yang terpancang disana. Pinggulnya diputar sekuat tenaga, sesekali mengejan, menahan derita nikmat.

‘Shhh…shhh….shhh…’ perlahan tetapi pasti kewanitaanya mampu mengerami kerasnya kejantanan siremaja. Dengan semangat luar biasa akibat ledakan birahi kewanitaannya akhirnya mulai mampu menandingi keperkasaan sang Tongkat.

Lia memutar pinggulnya, bila dibandingkan dengan alu menghantam lumpang, atau ulegan menggerus atau menguleg cobek, yang tampak adalah lumpang atau cobeg kemaluannya memutar atau menguleg alu kejantanan Sapak.

“Sapak telah merem melek sedari tadi sejak kejantanannya berhasil dibenamkan. Sekarang dirinya santai saja menikmati gerusan atau ulegan kewanitaan si kakak. Dengan mesra didekapnya tubuh telanjang erat-erat seolah memberi semangat, ‘ayo uleg…ayu uleg terus…’ Sesekali ditimpalinya dengan keluhan manja, yang terdengar bagai nyanyian pemompa semangat Lia yang memang telah kepayahan dari tadi akibat dirinya menerima desakan kajantanan.

Sesaat berjuang menguleg alu kejantanan dengan kewanitaannya, Lia merasakan dirinya sangat lemas, serasa lepas sendi-sendi seluruh tubuhnya, memaksa kewanitaannya menggerus Tongkat yang perkasa.
Tetetapi karena nikmat yang dihasilkan setiap geliatan pinggulnya mendorongnya tetap memacu kenikmatan. Lemas nian rasanya, tetapi oh…oh..oh…

Ditepi puncak pendakiannya dalam sisa-sisa tenaganya, Lia menyentak- nyentakkan dengan buas, pinggulnya kekiri kekanan, menyeret tonggak itu merebah kekiri atau kekanan, sekaligus menghasilkan gesekan keras batang kajantanan dengan otot dinding kemaluannya. Dirinya tak mampu mengamblaskan lebih jauh Tongkat keras itu, tak kuat rasanya menahan kesesakan.

Sapak berdesis-desis keenakan merasakan gilasan dikemaluannya. Tetetapi ebih dari itu dirinya sangat senang memangku sesosok tubuh indah telanjang yang kelojotan berjuang menggapai nikmat, dengan menggeliat- geliat memeras kejantanannya dengan kewanitaannya.

Sapak tak perlu bekerja keras, dirinya cukup memangku dan memberikan dekapan mesra, membiarkan sendiri wanita itu tersengal- sengal menggapai puncak kenikmatannya.

Hingga akhirnya, ‘Hhhhh Sapak……..’ Dengan setengah menjerit panjang dan parau, Lia kembali meledak dalam luapan kenikmatan yang mengharubiru seluruh sel-sel daam tubuhnya. Sensasi yang luar biasa, mungkin ia belum pernah mengalami sensasi ini seumur hidupnya.

Tubuhnya loyo ambruk dalam dekapan sianak, yang dengan penuh kasih memberikan dorongan semangat.

Dalam Mengarungi deraan nikmat dipuncak birahi, Lia merasakan kejantanan siremaja yang semakin kokoh tertanam, sekarang seolah-olah mengejek si liang kemaluan yang telah takluk, dengan berkedut-
kedut. Sapak dengan teknik kegelnya, membimbing kakaknya tetap bertahan dalam orgasmenya melalui denyutan-denyutan kejantanannya.

Bagi Lia yang setengah mati liang kewanitaannya disesaki siTongkat jantan, kedutan itu bagai memeras dari dalam seluruh dinding kewanitaanya.

Lia hanya mampu meresapi nikmat orgasme berkepanjangan dengan terengah-engah mendekap tubuh seremaja.

Sapak yang tengah mempelajari teknik sex Tao, merasakan puncak kepuasan saat Lia menarungi orgasmenya yang panjang. Sapak tak memerlukan ejakulasi untuk itu. Kebahagiaan wanita telanjang yang didekapnya adalah kepuasannya. Dinikmatinya berlama-lama denyutankejantanannya dalam kehangatan kewanitaan.

Dengan penuh rasa empati kembali didekapnya tubuh telanjang Lia dalam pangkuannya, seolah-olah berbisik, ayo istirahat sayang

Tak rela melepaskan keindahan, Lia terlena, dan tertidur, telanjangdalam pangkuan siremaja.

Sapak dengan puas menikmati hal tersebut, menikmati setiap senti kulitnya yang bersentuhan dengan tubuh telanjang. Sampai pagi.Selesai Cerita Sex Terbaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*